Kebudayaan & Kepariwisataan

KEBUDAYAAN

Dalam mitos suku-suku tua di pedalaman Bumi Papua disebut sebagai TUMOLUP (Sang Gaib atau Tuhan Allah). Legenda itu oleh Suku Wambon, Tumolup adalah Dewa Mereka. Dialah yang menurunkan putranya dalam wujud rupa tak dapat di jelaskan secara realistis. Makhluk putra sang Tumolup ini disebut Beten, yang menjadi  cikal aneka etnik besar dari rimba belantara Papua, tetapi kemudian telah menyebar ke berbagai penjuru negeri antah berantah.

Kisah teologi purba komunitas wambon dan juga Suku Awuyu ini, persis mirip dengan prosesi Taurat hingga Injil dalam keyakinan kaum Nasrani. Bahwa pada mulanya adalah Firman dan Firman itu adalah Allah yang menjadikan langit, bumi beserta segala isinya. Lalu Allah Bapa Yang Maha Kasih itu menjadikan Manusia dalam wujud Kristus Yesus, Putra TunggalNya. Dialah Tuhan dan Juru Selamat Dunia, sang Kepala Gereja sekaligus Solusi atau Jalan Menuju Surga Yang Kekal.

Sementara bagi kalangan tetua adat Suku Wambon khususnya yang telah dibaptis sejak Injil masuk ke wilayah Boven Digoel oleh Karya Para Misionaris/Zending (Tokoh Agama Khatolik ataupun Protestan), Betenlah sosok pembaru itu pemberian Tumolup yang dianggab sebagai nenek moyang Suku Wambon untuk memulai perikehidupan manusia atau menjadi cikal bakal peradaban itu sendiri.

Ada berjuta misteri tersimpan rapih, akan ada proses waktu untuk menguak beragam misteri peradaban mereka, tergantung dari apa kata alam yang begitu menyatu dengan kultur manusianya.

Suku Wambon merupakan komunitas suku terbesar di Boven Digoel. Secara epistimologis, istilah Wambon adalah nama awal yang menjadi personikasi Orang Wambon. Penamaan ini dilakukan sendiri oleh masyarakat Wambon.

Kemudian, ada penyebutan lain dalam istilah Mandobo. Tetapi sesungguhnya ini merupakan nama yang diberikan oleh orang asing Belanda. Mandobo secara umum diartikan sebagai manusia pipa.

Akan tetapi ada juga pendapat, bahwa yang menamakan masyarakat di Wambon adalah Orang Muyu, yakni suku terbesar kedua di Boven DIgoel. Suku inilah yang memiliki peran strategis dalam sejumlah aktivitas masyarakat. Merekalah yang pertamakali bersikap menerima faktor pengaruh berwujud geliat pencerahan, khususnya dari kaum Misionaris Katholik tempo dulu.

Dibandingkan dengan suku lainnya, kebudayaan Suku wambon pada mulanya dikenal dengan kebudayaan peramu konsumtif. Sedangkan Suku Awuyu (=yakni komunitas yang di sebagian kalangan Orang Wambon dianggab memiliki nenek moyang sama dengan mereka) adalah kebudayaan peramu sumatif. Kebudayaan ini menunjuk pada sikap yang menerima apa saja sesuai hasil yang ada. Dia menyesuaikan dengan kebudayaan Suku Muyu, tapi strukturnya tinggi. Sedangkan kebudayaan Suku Muyu sendiri adalah kebudayaan petani.

Suku Wambon merupakan salah satu suku dalam wilayah pemerintahan Kabupaten Boven Digoel khususnya, dan “bangsa” Papua umumnya. Secara geografis, Suku wambon hidup di antara Kali Kau dan Digoel.

Data dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boven Digoel memang belum merinci kuantitas (jumlah penduduk) dan perwilayahan menurut suku. Tetapi jika dilihat dari peta penguasaan kawasan/tanah ulayat, maka dapat disimpulkan, bahwa Orang Wambon memiliki jumlah sekitar separuh dari total penduduk Kabupaten Boven Digoel. Hal ini terlihat pada komposisi wilayah saat lepas dari Kabupaten Merauke dan berdiri sendiri secara otonom sebagai Kabupaten Boven Digoel pada Tahun 2002. Yakni tersebarnya orang Wambon dilebih dari 70% wilayah Kabupaten Boven Digoel. Malahan jika diukur seksama, bisa mencapai angka sekitar 90%.

Orang Wambon ini berdiaspora mulai dari Silir kemudian ke Waropko, lalu memutar ke atas (arah Utara) di Manggelum, turun lagi di kawasan Koway, berlanjut ke Kouh, Bomakia, hingga Tanah Merah. Di Distrik Mindiptana pun yang merupakan sentral Orang Muyu (Suku terbesar kedua), begitu juga di Distrik Waropko, ternyata sekitar separuh tanah di sana menjadi hak adat Orang Wambon.

Oleh Data Badan Pusat Statistik Merauke tentang Luas Wilayah Kabupaten Boven Digoel, berarti Orang Wambon sesungghnya berada di minimal 16.900 Km2 dari total wilayah keseluruhan yang mencapai 27.108 Km2. Sedangkan jumlah penduduk Orang Wambon, dengan mengikuti persebarannya menurut kawasan distrik-distrik tersebut di atas, bisa mencapai paling kurang 21.900 dari total 43.830 jiwa keseluruhan penduduk Kabupaten Wambon (Data BPS Kab. Boven Digoel Tahun 2006 dan BPS Merauke Tahun 2005).

Distrik Mandobo di sentrum Kabupaten Boven Digoel merupakan pusat utama berhimpunnya komunitas Orang Wambon. Ketika sebelum pemekaran distrik-distrik baru terjadi di Kabupaten Boven Digoel (semester pertama 2006), secara administratif pemerintahan mereka menguasai luas wilayah mencapai 6.551 Km2. Atau merupakan 24,17% dari total wilayah Kabupaten Boven Digoel yang tercatat sebesar 27.108 Km2. (Data BPS, Boven Digoel Dalam Angka 2004/2005).

Sebagaimana data data diatas, posisi terluas kedua oleh Distrik Jair (21,11%) yang banyak dihuni komunitas Suku Awuyu, kemudian Distrik Mindiptana (17,90%) sentra utama Suku Muyu. Selebihnya dikuasai oleh tiga distrik kecil, yaitu Waropko (12,49%), Bomakia (8,42%) dan Kouh (5,92%).

Sesuai konsep pemekaran distrik baru telah ditetapkan Oleh Pemkab Boven Digoel, sembilan wilayah administratif baru, menjadi total 15 Distrik yaitu Fofi, Arimop, Kombut, Iniyandit, Ambatkwi, Manggelum, Firiwage, Yaniruma dan Subur.

Diseluruh wilayah distrik tersebut, penduduknya tetap saja didominasi oleh tiga suku besar secara kuantitas yaitu Suku Wambon Alenggonop yang mencapai sekitar 70%, lalu Suku Muyu atau Kati kemudian Suku Awuyu.

Sejumlah penulisan menyebut Suku Wambon Anggonop dengan nama Suku Mandobo. Mandobo (man=laki-laki atau manusia dan dobo=pipa) dapat diartikan sebagai manusia pipa.

Suku Wambon Alenggonop terdiri dari dua belas sub-suku. Perbedaanya hanya pada dialeknya. Anak Suku Wambon diantaranya Wanggom, Wambon Kokenop, Wambon Akayop, Wambon Lungganiop, Wambon Lukalop, Wambon Kombay, Koroway, Wambon Sau Kambo, Wambon Said, Wambon Luande berdasarkan penuturan dalam dialog intensif bersama para tokoh masyarakat, tetapi ada juga yang menyebut suku wambon atau mandobo memiliki sekitar 40 sub-suku. Hal ini dikatakan dalam diskusi yang dihadiri oleh Bpk. Dominicus Amote (Tokoh Adat), Frans Tingge (Birokrat), Jack Allu (Kepala kampung), Osiomo Kinggo (Kepala Kampung), Tulemus Maluop (Tokoh agama Katholik), Lukas Tonggut (Tokoh adat), Paulus Gena (Tokoh adat), Chr K Andaap (Tokoh adat) dan Ekunanda (Tokoh adat).

Sementara itu, Suku Kati atau Muyu, berdasarkan dialek yang dipakai sehari-hari, kini terdistribusi ke dalam tujuh sub-suku, yakni : Kati Kumendip, Kati Kokaib, Kati Ale, Kati Yonggom, Kati Are, Kati Komindip Okpari dan Kati Ninggurum. Sedangka suku Awuyu atau Jair, dilihat dari dialek, tidak terdapat perbedaan.

Ke-3 Suku Besar tersebut mengakui memiliki akar etnik dan budaya yang sama dengan masyarakat asli (Mereka masuk dalam rumpun Melanesia) di Tanah Papua dalam Wilayah NKRI.

Ekspresi konkret dari kultur yang punya keterkaitan erat dengan natur setempat tersebut, antara lain bisa disimak dari konsep manajemen dan Kepemimpinan Tradisional. Juga tatacara serta arsitektur Rumah Tinggi. Berikut pula pada distribusi sekaligus hak-hak atas tanah. Begitu juga hal ini tergambar dalam apresiasi kultural berbentuk upacara-upacara adat serta bermacam-macam pesta tradisional.

Berikut secara ringkas diruntun beberapa dari aktivitas ritual yang merupakan ekspresi budaya yang telah mentradisi di sekitar Boven Digoel : (1) Pesta Babi, (2) Pesta Rumah Baru, (3) Pesta Kenari, (4) Pesta Kumbili (Ubi Jalar), (5) Tradisi Penguburan, (6) Tradisi Perkawinan, dan (7) Pesta Anak Pertama. Itulah secuil ritual yang mentradisi dan terus dirayakan turun temurun dari generasi satu ke generasi seterusnya.

(BOVEN DIGOEL, Legenda, Kharisma dan Pilar Nusantara di Tapal Batas, oleh JEFREY RAWIS, Tahun 2006)

 

 

PARIWISATA

 

Objek Wisata

Kabupaten Boven Digoel dengan Ibu Kotanya Tanah Merah adalah tempat bersejarah. Selain situs atau tempat-tampat bersejarah, Boven Digoel juga memiliki berbagai objek wisata lainnya, yaitu objek wisata budaya, wisata alam dan wisata rohani, seperti yang ditunjukkan pada Tabel 10.1 berikut.

Tabel 10.1. Objek Wisata di Kabupaten Boven Digoel

No.

Objek Wisata

Lokasi Objek Wisata

Jenis Objek Wisata

Keterangan

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

1. Rumah di atas pohon Suku Kombay dan Koroway Distrik Yaniruma Budaya Rumah yang dibuat di atas pohon, dengan maksud untuk menghindari binatang buas.
2. Penjara Boven Digoel dan TMP Perintis Kemerdekaan Distrik Mandobo Situs Sejarah Penjara ini digunakan pada jaman penjajahan Belanda dan TMP Perintis Kemerdekaan adalah tempat dikuburkannya pahlawan-pahlawan perintis kemerdekaan yang dibuang di Boven Digoel.
3. Tanah Tinggi Distrik Mandobo Situs Sejarah Merupakan tempat pengasingan Bung Hatta pada masa sebelum kemerdekaan RI.
4. Gunung Koreyom Distrik Ambatkwi Alam Pemandangan Gunung dan alam sekitarnya yang indah dengan berbagai margasatwa liar di dalamnya.
5. Gua Kandon Kampung Kakuna Distrik Mindiptana Rohani Merupakan Goa Maria dimana Umat Katolik melakukan ziarah rohani.
6. Pesta Ulat Sagu Distrik Firiwage Budaya Pesta ini diadakan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberikan hasil bumi.

Sumber: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Boven Digoel, 2009

 

 

Akomodasi

Guna menunjang kegiatan pariwisata dan kegiatan lainya di Kabupaten Boven Digoel, terdapat beberapa usaha yang menyediakan jasa akomodasi. Beberapa usaha jasa akomodasi yang ada di Kabupaten Boven Digoel dapat dilihat pada Tabel 10.2 di bawah ini.

 

Tabel 10.2. Nama Usaha Jasa Akomodasi, Lokasi dan Klasifikasinya

 di Kabupaten Boven Digoel

 

No.

Nama Usaha Jasa Akomodasi

Lokasi

Klasifikasi

(1)

(2)

(3)

(4)

1. Kerabat Asiki Distrik Jair Penginapan
2. Dieka Asiki Distrik Jair Penginapan
3. Firiwage Tanah Merah Distrik Mandobo Penginapan
4. Ramayana Tanah Merah Distrik Mandobo Losmen
5. Mandiri Tanah Merah Distrik Mandobo Penginapan
6. Caritas Tanah Merah Distrik Mandobo Penginapan
7. Cabere Tanah Merah Distrik Mandobo Penginapan
8. Café Maya Tanah Merah Distrik Mandobo Losmen
9. Empat Saudara Tanah Merah Distrik Mandobo Losmen
10. Anugrah Mindiptana Distrik Mindiptana Penginapan

            Sumber: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Boven Digoel, 2009

 

Dari Tabel 10.2 di atas, tampak bahwa sebagian besar usaha jasa akomodasi berada di Tanah Merah Distrik Mandobo yang merupakan ibu kota kabupaten.