Kesehatan

Sarana Kesehatan

 Kesehatan masyarakat merupakan faktor penting dalam menunjang kegiatan pembangunan. Baik tidaknya tingkat kesehatan masyarakat salah satunya dipengaruhi oleh ketersediaan sarana kesehatan yang layak.

Tabel 4.1. Jumlah Sarana Kesehatan Kabupaten Boven Digoel, 2004-2009

 Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Boven Digoel, 2009

 

Kabupaten Boven Digoel hanya memiliki satu Rumah Sakit yang telah beroperasi dan terletak di Distrik Mindiptana. Seperti yang ditunjukkan pada Tabel 4.1, jumlah Puskesmas Perawatan terus mengalami peningkatan dari tahun 2004 yang hanya berjumlah 2 unit meningkat menjadi 17 unit pada tahun 2009. Sama halnya dengan jumlah Puskesmas Induk yang terus mengalami peningkatan dari tahun 2004 yang berjumlah 6 unit menjadi 15 unit pada tahun 2009. Jumlah Puskesmas Pembantu tidak berubah dari tahun 2004 hingga 2006 yaitu berjumlah 27 unit, kemudian pada tahun 2007 meningkat menjadi 32 unit, namun pada tahun 2008 jumlah Puskesmas Pembantu menurun menjadi 27 unit. Balai pengobatan yang terdapat di Kabupaten Boven Digoel, terdiri dari Balai Pengobatan Swasta dan Poskeskam. Balai Pengobatan Swasta yang tercatat hingga tahun 2008 hanya berjumlah 2 unit dan Balai Pengobatan Poskeskam dari tahun 2007 hingga 2008 tetap berjumlah 10 unit. Sarana kesehatan berupa Posyandu jumlahnya terus meningkat dari tahun 2007 yang berjumlah 72 unit menjadi 85 unit pada tahun 2009. Polindes yang jumlahnya pada tahun 2005 mencapai 20 unit turun menjadi 15 unit pada tahun 2008. Sarana lainnya yang menunjang bidang kesehatan di Kabupaten Boven Digoel, yaitu terdapat hanya 1 Apotek dan 1 Gudang Farmasi di tahun 2008 dan 2009.

 

Tabel 4.2. Jumlah Sarana Kesehatan Pada Puskesmas Keliling

                                       Kabupaten Boven Digoel, 2004-2009

  Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Boven Digoel, 2009

 

Dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan hingga ke pelosok-pelosok kampung, pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Boven Digoel mengadakan sarana kesehatan berupa Puskesmas Keliling dengan fasilitas pelayanan berupa kendaraan roda empat (mobil), roda dua (motor), speed boat dan long boat. Seperti yang ditunjukkan pada Tabel 4.2, jumlah Puskesmas keliling berupa kendaraan roda empat meningkat jumlahnya dari 2 unit mobil pada tahun 2004 menjadi 11 unit mobil pada tahun 2009. Begitu juga dengan kendaraan roda dua yang jumlahnya terus meningkat dari tahun 2004 berjumlah 9 unit menjadi 58 unit pada tahun 2009. Puskesmas keliling yang menggunakan speed boat jumlahnya meningkat dari 5 unit pada tahun 2004 menjadi 8 unit pada tahun 2006, namun pada tahun 2007 jumlahnya menurun menjadi hanya 4 unit, kemudian pada tahun 2008, jumlah speed boat bertambah lagi manjadi 8 unit dan pada tahun 2009 naik menjadi 10 unit. Long boat adalah sarana kesehatan pada puskesmas keliling yang paling sedikit jumlahnya. Pada tahun 2004, jumlah long boat mencapai 3 unit dan pada tahun 2007 jumlahnya berkurang menjadi hanya 2 unit.

 

 

Tenaga Kesehatan

 Tenaga kesehatan sangat diperlukan guna meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat. Tenaga kesehatan yang ada di Kabupaten Boven Digoel terdiri dari Dokter Umum, Dokter Gigi, Bidan, Apoteker, Asisten Apoteker, Perawat, Ahli Gizi, Sanitarian dan Analis Kesehatan.

 

Tabel 4.3. Jumlah Tenaga Kesehatan Berdasarkan Keahlian Pada Dinas Kesehatan

                     Kabupaten Boven Digoel, 2004-2009

Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Boven Digoel, 2009 dan Boven Digoel Dalam Angka 2009/2010

 

Pada Tabel 4.3 tampak bahwa jumlah dokter umum terus mangalami peningkatan dari tahun ke tahun. Sejak tahun 2004, jumlah dokter umum bertambah dari 8 dokter menjadi 25 dokter pada tahun 2009. Berbeda dengan dokter umum, dokter gigi hanya berjumlah 3 orang pada tahun 2007 dan bertambah menjadi 7 orang pada tahun 2008, namun pada tahun 2009 jumlah dokter gigi berkurang menjadi 4 orang. Jumlah bidan pada tahun 2004 sebanyak 72 orang berkurang secara signifikan pada tahun 2005 menjadi hanya 18 orang, namun pada tahun 2006 jumlah bidan meningkat tajam menjadi 70 orang dan terus bertambah hingga pada tahun 2008 jumlah bidan mencapai 82 orang, kemudian pada tahun 2009 jumlah bidan kembali berkurang menjadi 73 orang. Apoteker adalah tenaga kesehatan yang paling sedikit, yaitu hanya berjumlah 1 orang pada tahun 2008 dan bertambah menjadi 2 orang di tahun 2009. Asisten apoteker memiliki jumlah yang lebih banyak dibandingkan dengan apoteker. Asisten apoteker bertambah jumlahnya dari tahun 2005 yang hanya berjumlah 1 orang menjadi 5 orang pada tahun 2007, namun pada tahun 2008 jumlahnya berkurang menjadi 3 orang, kemudian pada tahun 2009 jumlah asisten apoteker bertambah 1 orang menjadi 4 orang. Jumlah perawat pada tahun 2004 berkurang dari 74 orang menjadi 67 orang pada tahun 2005. Pada tahun 2006 jumlah perawat kembali bertambah menjadi 86 orang dan terus bertambah pada tahun 2007 hingga mencapai 106 orang, namun pada tahun 2008 jumlah perawat berkurang menjadi 92 orang, dan bertambah menjadi 95 orang pada tahun 2009. Ahli gizi mulai ada di Kabupaten Boven Digoel pada tahun 2008 dengan jumlah 9 orang, dan pada tahun 2009 bertambah menjadi 10 orang. Jumlah tenagan sanitarian berkurang dari tahun 2008 berjumlah 5 orang menjadi 4 orang di tahun 2009. Sedangkan tenaga analis kesehatan bertambah dari 1 orang pada tahun 2008 menjadi 5 orang pada tahun 2009.

 

 

 Kesehatan Masyarakat

 

Gambar 4.1. Jumlah Penderita yang Dilaporkan Pada Dinas Kesehatan Kabupaten Boven Digoel Berdasarkan Jenis Penyakit, Tahun 2004 – 2009

 Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Boven Digoel, 2009 dan Boven Digoel Dalam Angka 2009/2010

Kesehatan memegang peranan yang sangat vital dalam segala aspek kegiatan. Pembangunan di suatu daerah dapat berjalan dengan lancar jika seluruh masyarakatnya memiliki tingkat kesehatan yang lebih baik. Tingkat kesehatan masyarakat bisa dilihat dari semakin bertambah atau berkurangnya penyakit yang diderita oleh masyarakat di daerah tersebut. Seperti yang tampak dalam Gambar 4.1, penyakit saluran pernapasan dan malaria masih mendominasi penyakit yang diderita oleh masyarakat yang ada di Kabupaten Boven Digoel. Dari tahun 2004 hingga 2006, penyakit saluran pernapasan adalah penyakit yang paling banyak diderita oleh masyarakat dibandingkan penyakit malaria yang menempati tempat kedua penyakit yang paling banyak diderita. Namun dari tahun 2008 hingga 2009, penyakit malaria lebih banyak diderita dibandingkan penyakit saluran pernapasan. Dari Gambar 4.1 juga dapat dilihat hampir semua penyakit meningkat jumlahnya dari tahun 2004 ke tahun 2006. Namun dari tahun 2008 hingga 2009, terjadi penurunan jumlah hampir semua jenis penyakit yang diderita. Penyakit yang paling sedikit diderita adalah penyakit campak, meskipun jumlah penyakit ini menunjukkan peningkatan dari tahun 2008 ke 2009 namun tidak begitu besar kenaikannya. Jumlah balita gizi buruk meningkat secara pesat dari tahun 2004 yang berjumlah 63 kasus menjadi 129 dan 128 kasus pada tahun 2005 dan 2006. Namun pada tahun 2007 jumlah kasus balita gizi buruk menurun secara pesat menjadi hanya 38 kasus. Peningkatan terjadi lagi pada tahun 2008 sebanyak 98 kasus, kemudian menurun pada tahun berikutnya yaitu tahun 2009 sebanyak 54 kasus. Kasus ibu hamil gizi buruk di Boven Digoel mulai mengalami penurunan dari tahun 2004 sebanyak 80 kasus menjadi 14 kasus pada tahun 2006, namun pada tahun 2007 dan 2008 jumlahnya terus mengalami peningkatan secara signifikan hingga mencapai 118 kasus di tahun 2008. Pada tahun 2009 kasus ibu hamil gizi buruk mengalami penurunan yang sangat pesat hingga hanya terdapat 12 kasus.